Kebudayaan Bali
Kebudayaan
Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran
agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaaan ( rwa bhineda ),
yang sering ditentukan oleh faktor ruang ( desa ), waktu ( kala )
dan kondisi riil di lapangan ( patra ). Konsep desa, kala, dan patra
menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima
dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa
komunikasi dan interaksi antara kebudayaan Bali dan budaya luar seperti India
(Hindu), Cina, dan Barat khususnya di bidang kesenian telah menimbulkan
kreatifitas baru dalam seni rupa maupun seni pertunjukkan. Tema-tema dalam seni
lukis, seni rupa dan seni pertunjukkan banyak dipengaruhi oleh budaya India.
Demikian pula budaya Cina dan Barat/Eropa memberi nuansa batu pada produk seni
di Bali. Proses akulturasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Bali bersifat
fleksibel dan adaptif khususnya dalam kesenian sehingga tetap mampu bertahan
dan tidak kehilangan jati diri (Mantra 1996).
Kebudayaan
Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi
mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama
manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan
), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab
kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan
harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud.
Selain
nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi, dalam kebudayaan Bali juga dikenal
adanya konsep tri semaya yakni persepsi orang Bali terhadap waktu.
Menurut orang Bali masa lalu ( athita ), masa kini ( anaghata )
dan masa yang akan datang ( warthamana ) merupakan suatu rangkaian waktu
yang tidak dapt dipisahkan satu dengan lainnya. Kehidupan manusia pada saat ini
ditentukan oleh hasil perbuatan di masa lalu, dan perbuatan saat ini juga
menentukan kehidupan di masa yang akan datang. Dalam ajaran hukum karma
phala disebutkan tentang sebab-akibat dari suatu perbuatan, perbuatan yang
baik akan mendapatkan hasil yang baik. Demikian pula seBaliknya, perbuatan yang
buruk hasilnya juga buruk atau tidak baik bagi yang bersangkutan.
Kebudayaan
Bali juga memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang
termanifestasi secara konfiguratif yang emncakup nilai-nilai dasar yang dominan
sepert: nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmoni, dan
nilai keseimbangan (Geriya 2000: 129). Kelima nilai dasar tersebut ditengarai
mampu bertahan dan berlanjut menghadapi berbagai tantangan.
Hari Besar Umat Hindu Bali
Hari
Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Caka (pergantian tahun Caka). Yaitu pada hari Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari pesucian Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air hidup (Tirtha Amertha Kamandalu). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap Dewa-Dewa tersebut.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta). Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi adalah sebagai berikut :
1. Tawur (Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "panglong ping 14 sasih kesanga" umat Hindu melaksanakan upacara Butha Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, dengan mengambil salahg satu dari jenis-jenis "Caru" menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama; Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).
Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, dan segala 'leteh' (kotor), semoga sirna semuanya.
Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari; nasi manca warna (lima warna) berjumlah 9 tanding/paket, lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Setalah mecaru dilanjutkan dengan upacara pengerupukan, yaitu : menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.
Khusus di Bali, pada pengrupukan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.
Selanjutnya dilakukan Melasti yaitu menghanyutkan segala leteh (kotor) ke laut, serta menyucikan "pretima". DIlakukan di laut, karena laut (segara) dianggap sebagai sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, dan Pemuteran Mandaragiri). Selambat-lambatnya pada Tilem sore, pelelastian sudah selesai.
Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Caka (pergantian tahun Caka). Yaitu pada hari Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari pesucian Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air hidup (Tirtha Amertha Kamandalu). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap Dewa-Dewa tersebut.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta). Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi adalah sebagai berikut :
1. Tawur (Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "panglong ping 14 sasih kesanga" umat Hindu melaksanakan upacara Butha Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, dengan mengambil salahg satu dari jenis-jenis "Caru" menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama; Panca Sata (kecil), Panca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).
Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, dan segala 'leteh' (kotor), semoga sirna semuanya.
Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari; nasi manca warna (lima warna) berjumlah 9 tanding/paket, lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Setalah mecaru dilanjutkan dengan upacara pengerupukan, yaitu : menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.
Khusus di Bali, pada pengrupukan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.
Selanjutnya dilakukan Melasti yaitu menghanyutkan segala leteh (kotor) ke laut, serta menyucikan "pretima". DIlakukan di laut, karena laut (segara) dianggap sebagai sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, dan Pemuteran Mandaragiri). Selambat-lambatnya pada Tilem sore, pelelastian sudah selesai.
2.
Nyepi
Keesoka harinya, yaitu pada "panglong ping 15" (Tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini dilakukan puasa/peberatan Nyepi yang disebut Catur Beratha Penyepian dan terdiri dari; amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Beratha ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit.
Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkat ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit).
Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun barupun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.
Yang lebih penting dari dari pada perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), sesuai dengan Lontar Sundari Gama adalah memutihbersihkan hati sanubari, dan itu merupakan keharusan bagi umat Hindu.
Tiap orang berilmu (sang wruhing tatwa dnjana) melaksanakan; Bharata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadhi (menunggal kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi), yang bertujuan kesucian lahir bathin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu, sehingga akan mempunyai kesiapan bathin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan Hari Raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti dirubah.
3. Ngembak Geni (Ngembak Api)
Terakhir dari perayaan Hari Raya Nyepi adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tangal ping pisan (1) sasih kedasa (X). Pada hari Inilah tahun baru Caka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilahturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama), satu sama lain.
Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Caka berakhir pada panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X), dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X).
Keesoka harinya, yaitu pada "panglong ping 15" (Tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini dilakukan puasa/peberatan Nyepi yang disebut Catur Beratha Penyepian dan terdiri dari; amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Beratha ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit.
Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkat ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit).
Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun barupun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.
Yang lebih penting dari dari pada perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), sesuai dengan Lontar Sundari Gama adalah memutihbersihkan hati sanubari, dan itu merupakan keharusan bagi umat Hindu.
Tiap orang berilmu (sang wruhing tatwa dnjana) melaksanakan; Bharata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadhi (menunggal kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi), yang bertujuan kesucian lahir bathin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu, sehingga akan mempunyai kesiapan bathin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan Hari Raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti dirubah.
3. Ngembak Geni (Ngembak Api)
Terakhir dari perayaan Hari Raya Nyepi adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tangal ping pisan (1) sasih kedasa (X). Pada hari Inilah tahun baru Caka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilahturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama), satu sama lain.
Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Caka berakhir pada panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X), dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X).
Selain keindahan tempat-tempat wisata dan
keramahan penduduk lokalnya, Bali juga dikenal karena keunikan kesenian dan
kebudayaan masyarakat setempat yang begitu lestari. Berbagai macam kesenian
seperti tarian-tarian, baik klasik maupun modern kerap digelar untuk semakin
memikat para wisatawan yang berkunjung sehingga merasa sulit untuk tak datang lagi
di kemudian hari ke Bali.
Panggung Sahadewa
Ada sebuah panggung pertunjukan yang cukup
terkenal di Bali, khususnya di kawasan Gianyar, yaitu Panggung Sahadewa. Apa
fungsi dari panggung tersebut? Panggung Sahadewa merupakan tempat untuk
menggelar pertunjukan Tarian Barong dan Kecak. Di panggung inilah para
pengunjung bisa menyaksikan sepuasnya atraksi pertunjukan Tarian Barong yang
didalamnya menceritakan pertarungan antara kebajikan dan kebaikan yang selaku
berkelindan dengan kehidupan manusia.
Barong sendiri merupakan makhluk
mitologi yang memiliki esensi kebajikan sebagai aspek dasarnya. Sementara
lawannya yakni Rangda yang memiliki kekuatan dan kepiawaian sangat andal
digambarkan sebagai makhluk yang beresensi kejahatan dan kebatilan.
Tarian-tarian Barong ini terdiri dari 5 babak yang diawali dengan gending
pembuka, dimana pada bagian pembuka digambarkan tiga orang bertopeng membuat
keributan dan merusak ketenangan hutan, mereka bertemu kera dan berkelahi
hingga akhirnya kera dapat memotong hidung salah satu dari mereka.
Selain mempertunjukkan Tarian Barong, pengunjung
juga bisa menyaksikan Tarian Kecak yang memiliki keunikan tersendiri. Apa yang
membuatnya unik? Yakni tarian ini tak diiringi oleh alat musik atau gamelan
sebagaimana layaknya tarin-tarian lain pada umumnya melainkan hanya diiringi
oleh suara sekitar 100-an orang.
Masyarakat di sekitar rata-rata berprofesi
sebagai petani dan pengrajin perak, selain juga tentunya ada yang menjadi
karyawan, pedagang ataupun pelayan di tempat-tempat wisata. Dengan dibuka dan
difungsikannya Panggung Sahadewa ini maka geliat perekonomian masyarakat pun
meningkat. Terdapat fasilitas berupa panggung terbuka berlatar belakang alami
berkapasitas tempat duduk 600 orang dengan bentuk tempat duduk menurun.
Panggung tertutup, counter & costumer service, coffee shop, ruang
tunggu guide, toilet dan area parkir yang luas.
Upacara
Ngaben Bali
Ngaben adalah upacara penyucian atma
(roh) fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya
dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Seperti yang tulis di artikel
tentang pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan
karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta
yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan
akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan
digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan
kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat
meninggalkan badan kasar.
Ada
beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Ada yang mengatakan ngaben dari
kata beya yang artinya bekal, ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi
abu), dll.
Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atma/roh.
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian.
Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atma/roh.
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian.
Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Prosesi ngaben dilakukan dengan
berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai
simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali.
Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya, juga
manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus
laut dan jenazah tidak diketemukan, kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah
hangus terbakar, atau seperti saat kasus bom Bali 1 dimana beberapa jenazah
tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.
Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.
Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh.
Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.
Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh.
Pada hari H-nya, dilakukan prosesi
ngaben di kuburan desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah, yaitu
tempat jenazah yg akan diusung ke kuburan. Wadah biasanya berbentuk padma sbg
simbol rumah Tuhan. Sampai dikuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke
pemalungan, yaitu tempat membakar jenazah yg terbuat dari batang pohon pisang
ditumpuk berbentuk lembu.
Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin.
Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.
Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.
Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin.
Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.
Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.
Sumber : www.badungkab.go.id, baliguide.biz,
id.wikipedia.org
Kesenian
Bali
·
Joget Bumbung
Joged
Bumbung merupakan tari pergaulan di Bali. Biasanya dipentaskan dalam
acara-acara sosial kemasyarakatan di Bali, seperti acara pernikahan. Tarian ini
ditarikan oleh penari wanita, yang kemudian mencari pasangan pria dari para
penonton untuk diajak menari bersama. Tarian ini biasanya diiringi dengan
seperangkat musik dari bambu.
·
Gambuh
merupakan
seni tari dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan juga merupakan
dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari, sehingga dianggap
sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.
Menurut
beberapa sumber, Gambuh muncul sekitar abad ke-15 dengan lakon bersumber
pada cerita Panji. Gambuh berbentuk teater total karena di dalamnya terdapat jalinan
unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.
Gambuh
dipentaskan dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa
Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan
lain sebagainya.
Diiringi
dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu, tokoh-tokoh yang
biasa ditampilkan dalam Gambuh adalah Condong, Kakan-kakan, Putri,
Arya/Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang,
Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut
semua penari berdialog umumnya menggunakan bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas,
Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya, atau kasar.
Gambuh
yang masih aktif hingga kini terdapat di desa:
Kedisan (Tegallalang, Gianyar)
Batuan (Gianyar)
Padang Aji dan Budakeling (Karangasem)
Tumbak Bayuh (Badung)
Pedungan (Denpasar)
Apit Yeh (Tabanan)
Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng)
Batuan (Gianyar)
Padang Aji dan Budakeling (Karangasem)
Tumbak Bayuh (Badung)
Pedungan (Denpasar)
Apit Yeh (Tabanan)
Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng)
(wikipedia/e-kuta.com/berbagai
sumber)
·
Tari Pendet
Tari Pendet
pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat
ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas
turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para
seniman Bali mengubah Pendet menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap
mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari
ini adalah I Wayan Rindi (? – 1967).
Pendet merupakan pernyataan dari
sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya
tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat
ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.
Tarian ini diajarkan sekedar
dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda
mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung
jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola
gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok
atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan
biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara
dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen
lainnya.
Sumber : www.wikipedia.org
·
Wayang
Cenk Blonk
Awalnya perkembangan wayang
kulit di Bali tidak terlalu menggembirakan. Minat khususnya generasi muda akan
pertunjukan wayang sangatlah menyedihkan. Tapi tidak kini.
Kehadiran Wayang yang dikenal
dengan nama Cenk Blonk menghadirkan suasana dan perkembangan terbaru untuk
dunia pewayangan di Bali.
Wayang asal desa Belayu,
kecamatan Marga, kabupaten Tabanan ini digawangi oleh seniman handal Dalang
Wayan Nardayana S.sn.
Kepiawaiannya untuk memainkan wayang
dan menyelingi dengan lelucon yang menyegarkan membuat wayang Cenk Blonk sangat
cepat digemari, baik oleh kalangan muda-tua, perempuan pria.
Tokoh lelucon atau punakawan
yang sering tampil di wayang Cenk Blonk adalah Cenk, Blonk, Sangut dan Delem.
·
Tari Kecak : Cak-Cak-Cak
Jalan-jalan ke objek wisata Pura Uluwatu di sore hari sambil sekedar jepret-jepret
pemandangan sunset yang menawan, ternyata ada tontonan lebih. Puluhan penari
membentuk sebuah lingkaran bersiap-siap melakukan sebuah tarian yang begitu
terkenal yaitu tari Kecak.
Tari Kecak adalah sebuah dramatari Bali yang penarinya
berkisar antara 50 sampai 150 orang penari yang sebagian besar adalah pria,
mereka menari dengan membuat paduan suara, “cak, cak, cak” yang irama ditata
sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suatu paduan yang sangat harmonis,
diselingi dengan beberapa aksen dan ucapan-ucapan lainnya.
Cerita dalam tari Kecak biasanya
mengambil lakon Ramayana dengan beberapa tokoh pewayangan yang terkenal seperti
Rama, Sinta, Hanuman dan Rahwana yang berperan sebagai tokoh antagonis.
Yang lebih mengasyikkan tentunya
Kawan dapat menonton pertunjukan tari ini sambil menikmati indahnya sunset di
Uluwatu. Dengan harga tiket hanya Rp. 70.000, kita sudah bisa menyaksikan
tarian yang tersohor hingga ke manca negara ini.